Rabu, 08 Mei 2019

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 "KEISOMERAN GEOMETRI Pengubahan Asam Maleat Menjadi Asam Fumarat"


VII. Data Pengamatan
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Digerus sampel asam maleat (apel hijau)
Ekstrak diambil 20ml, warna larutan coklat
2.
Dimasukkan ke labu dasar bulat, ditambahkan HCl
Warna larutan cokelat tua
3.
Sampel direfluks selama 10 menit
Warna sampel menghitam dan menggelegak
4.
Disaring sebanyak 2 kali penyaringan
Warna endapan hitam, warna filtrat cokelat pekat
5.
Dijenuhkan dalam batu es
Bau filtrat = karamel
Warna coklat

VIII. Pembahasan
Pada percobaan terakhir ini praktikan melakukan percobaan mengenai Keisomeran Geometri dimana praktikan melakukan reduksi pada asam maleat yang terkandung pada buah apel. Keisomeran itu sendiri merupakan senyawa atau unsure yan memiliki rumus molekulnya sama  satu dengan yang lainnya namun hanya beberapa struktur saja dan konfiurasinya tidak sama. Dimana kita dapat mengetahui bahwa beberapa senyawa organic itu dapat berikatan dengan satu atau lebih gugus fungsi, yang mana dapat berikatan tunggal maupun rangkap. Pada gugus fungsi yang berikatan tunggal dengan C-C maka ikatan tersebut dapat berotasi secara bebas dalam ikatannya yang menyebabkan ruang dari gugus fungsinya tidak bisa di identifikasi, tetapi pada gugus fungsi yang berikatan rangkap atau siklik tidak akan bisa berotasi secara bebas di sepanjang ikatannya sehingga ruang gugus fungsinya mudah untuk di identifikasi di mana hal ini yang disebut sebagai isomer geometri. Isomer geometri ini bisa ditemukan dalam cincin sikloalkana yang merupakan rantai siklik yang bisa membentuk bidang pseudo. Bidang ini dapat digunakan dalam identifikasi orientasi relatif atom atau stereokimianya.  Pada sisi cincin “atas” terdapat orientasi atom atau gugus sedangkan “bawah”nya mengandung sisi lainnya. Para ahli kimia menyatakan, untuk gugus atau atom yang terletak pada bagian atas disebut sebagai ikatan baji, sedangkan untuk gugus atau atom yang berada pada bagian bawah cincin disebut dengan garis tetas (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/20/keisomeran-geometri-transformasi-asam-maleat-menjadi-asam-fumarat/).
Pada percobaan ini, praktikan menguji keberadaan asam maleat dan mengubahnya menjadi asam fumarat. Seharusnya praktikan menggunakan anhidrat murni asam maleat yang berupa bubuk, namun karena anhidrat murni asam maleat tidak ada maka praktikan menggantinya dengan menggunakan kandungan asam maleat yang terdapat dalam apel hijau. Jadi prosedur yang dilakukan mulai dari tahap awal, yaitu menggerus beberapa apel terlebih dahulu dan sampai pada tahap terakhir, yaitu pada tahap penjenuhan asam maleat tersebut. Kandungan asam maleat pada apel hijau dapat dilihat ketika apel menghitam ketika buahnya terkena udara saat dikupas.  Hal ini dikarenakan asam fumarat bereaksi dengan oksigen yang menyebabkannya menjadi warna cokelat.Cara kerjanya, yaitu pertama-tama praktikan menggerus apel hijau, namun disini praktikan sebelum menggerusnya praktikan mengupas kulitnya dialam yang terbuka sehingga setelah dikupas warna daging buah apel menjadi warna coklat kehitaman.Hal itu, dikarena asam maleat sangat mudah teroksidasi. Selanjutnya apel tersebut digerus supaya didapatkan filtrate dari buah apel tersebut. Lalu setelah itu di dapatkanlah filtrat asam maleat sebanyak 20 ml kemudian dimasukkan ke labu alas bulat dan ditambahkan dengan HCl sehingga warna larutan menjadi kehitaman. Pada pencampuran inilah bisa terjadi reaksi adisi dari asam maleat menjadi asam fumarat. Pada asam maleat (cis) gugus –COOH dan gugus –H berada pada posisi ikatan rangkap sejajar, kemudian setelah berikatan dengan HCl, terjadilah reaksi adisi yang memutus ikatan rangkap pada gugus C=O dan gugus =COOH berpindah ke rantai seberang sehingga letak gugus –COOH dan –H terletak berseberangan dengan pasangannya. Yang mana rantai ini adalah asam fumarat (trans). Setelah itu sampel direfluks selama 10 menit. Dikarenakan asam fumarat lebih mudah larut dalam air maka selama proses perefluksan ini sampel akan mudah mengkristal. Semakin lama proses refluk, warna sampel semakin hitam dan tercium bau karamel. Proses ini seharusnya menghasilkan warna putih sebagai tanda terbentuknya asam fumarat. Setelah selesai direfluks, suhu mencapai 75oC dan sampel kami saring. Dikarenakan warna endapan masih sangat hitam, kami melakukan penyaringan kembali dan warna filtrat menjadi cokelat tua. Setelah itu kami menjenuhkan filtrat di dalam kotak yang telah kami isi es batu. Tujuan penjenuhan di sini agar terbentuk kristal sehingga kristal tersebut bisa diuji titik lelehnya dan dapat dibuktikan apakah kristal tersebut asam fumarat atau bukan. Setelah beberapa saat, ternyata praktikan tidak mendapatkan kristal yang seperti yang diinginkan. Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor. Salah satunya yaitu bisa jadi dikarenakan oleh proses penyaringan yang dilakukan 2 kali sehingga suhu filtrat sudah mulai turun sehingga sulit mengkristal saat di dalam es, kemudian juga kandungan dalam apel hijau hanya ada sedikit asam maleat, jadi tingkat kemurnian asam maleat juga kurang tinggi yang menyebabkan sulitnya terbentuk asam fumarat dalam bentuk kristal. Dan menurut praktikan juga faktor selanjutnya ialah pada saat praktikan melakukan pengupasan kulit buah apel, dimana disini praktikan melakukan penupasan dialam terbuka, sedangkan kita mengetahui bahwa asam maleat sangat mudah teroksidasi dengan oksigen, mungkin hal inilah yang menyebabkan praktikan tidak mendapatkan kristal yang berwarna putih, yaitu asam fumarat. Dan faktor selanjutnya adalah kemungkinan karena setelah digerus apel tersebut tidak diekstrak menggunakan pelarut yang cocok. Gambar reaksi pengubahan asam maleat menjadi asam fumarat. yaitu:

IX. Pertanyaan Pascapraktikum
  1. Mengapa dalam percobaan ini praktikan tidak mendapatkan kristal putih ketika hasilnya dijenuhkan?
  2. Reaksi apa yang terjadi dalam pengubahan asam maleat menjadi asam fumarat?
  3.  Mengapa praktikan menggunakan buah apel hijau dalam percobaan ini?
X. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini, yaitu:
  1. Keisomeran itu merupakan suatu senyawa atau unsur yang memiliki rumus molekulnya sama satu dengan lainnya tetapi hanya saja struktur dan konfigurasinya tidak sama.
  2. Berdasarkan kedua perbedaan ini isomer dibagi menjadi dua, yaitu isomer struktur dan isomer ruang. Isomer struktur memiliki  struktur yang berbeda, sedangkan isomer ruang memiliki konfigurasi yang berbeda.
  3. Keisomeran dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu isomer rantai, isomer posisi, dan isomer geometri. Pada percobaan yang telah dilakukan, kami melakukan uji isomer geometri.
XI. Daftar Pustaka
Fessenden & Fessenen,  1987. Kimia Organik Jilid 1 Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
Mulyono, 2005. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Rival, 2009. Buku Ajar Kimia Organik. Bandung : ITB

Uderwood, 2007. Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi keenam,Hal 388-390, diterjemahkan oleh Iis Sopyan, Erlangga, Jakarta.
XII. Lampiran Gambar

Proses refluks
Hasil setelah di refluks
Penyaringan setelah di refluks
Penyaringan pengulangan ekstrak
Hasil asam maleat setelah di refluks dan disaring







LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 " KROMATOGRAFI LAPIS TIPISN DAN KOLOM"

VII. Data Pengamatan
7.1 Kromatografi Lapis Tipis             
Perlakuan
Pengamatan
Disiapkan plat TLC
Sampel yang akan diuji diekstraki dengan metanol:
a.    Buah naga
b.   Bayam
c.    Nanas
d.   Kembang kertas
e.    Semangka
f.     Wortel
g.    Pepaya
h.   Kentang
i.      Tomat
j.     Kembang sepatu
Hasil dari ekstraksi sampel dengan metanol yaitu:
a.    Larutan berwarna merah keunguan
b.    Larutan berwarna hijau
c.    Larutan berwarna kuning
d.   Larutan berwarna merah pudar
e.    Larutan berwarna merah jernih
f.     Larutan berwarna oren
g.    Larutan berwarna oren
h.    Larutan berwarna coklat pudar
i.      Larutan berwarna oren pudar
j.      Larutan berwarna merah
Sampel yang telah diekstraksi ditotolkan ke plat TLC kemudian plat dimasukkan kedalam chamber yang berisi eluen (n-heksana : etil asetat = 2 ml : 1 ml). Diukur noda yang bergerak
a.    Buah naga
b.   Bayam
c.    Nanas
d.   Kembang kertas
e.    Semangka
f.     Wortel
g.    Pepaya
h.   Kentang
i.      Tomat
j.     Kembang sepatu
a.    Noda bergerak dengan jarak noda 3,9 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
b.    Jarak noda 0,3 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
c.    Jarak noda 3,8 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
d.   Jarak noda 2,5 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
e.    Jarak noda 3,7 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
f.     Jarak noda 3,9 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
g.    Jarak noda 3,8 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
h.    Jarak noda 0 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
i.      Jarak noda 4,1 cm dan jarak pelarut 4,7 cm
j.      Jarak noda 4 cm dan jarak pelarut 4,7 cm



8.2 Kromatografi Kolom
No
Perlakuan
Pengamatan
1.       
Disiapkan alat kromatografi kolom dan dimasukkan kapas serta ditetesi n-heksane
Kapas memadat dalam kolom dan n-heksane membersihkan kapas yang ketinggalan di kolom.
2.       
Dicampurkan silika gel dengan larutan n-heksana yang kemudian dimasukkan kedalam kolom secara terus menerus hingga memadat
Silika gel yang dimasukkan kedalam kolom dipadatkan hingga setengah bagian dari kolom
3.       
Dicawan petri dimasukkan 1 sudip silika gel dan ditetesi dengan sampel (sambil diaduk)
Sampel menjadi kering dan bercampur antara silika dan senyawa sampel.
4.       
Dimasukkan kedalam kolom. Dan di masukkan
5.       
Dilakukan untuk 10 sampel tanaman yang berbeda.
Sampel A (buah naga)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
         1.       
Disiapkan pelarut n-heksane :etil asetat = 8 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh bahwa pelarut turun secara perlahan namun sampel tidak turun
         2.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 16 : 2. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Diperoleh sampel sedikit turun diikuti pelarut yang habis.
         3.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 16 : 2. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Diperoleh sampel turun setengah kolom
        4.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 15 : 5. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Larutan sampel sedikit menurun.
Sampel dalam silika berwarna bening
        5.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes methanol
Diperoleh 5 botol sampel
        6.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2.
Diperoleh bahwa sampel crude (Sampel asli) bergerak. Namun sampel yang sudah dilakukan kromatografi kolom tidak bergerak.
Sampel B (Bayam)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 5 : 10. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Hasil sampel turun didasar kolom, diperoleh:
Botol I : bening
Botol II : hijau
Botol III : hijau pudar
Botol IV : bening
Dimana sampel yang dikolom pada silika mengering berwarna kuning.
2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Diperoleh bahwa tidak ada sampel yang bergerak. Pada botol 1,2 dan 3 pada plat berwarna kuning.
Sampel C (Nanas)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh sampel:
Botol I : berwarna bening
Botol II : silika pecah namun nanas turun menjadi keruh.
Botol III : bening keruh
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1.
Tidak bergerak dan tidak berwarna
Sampel D (Bunga Kertas)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : Bening
Botol II : Bening berminyak
Botol III : Agak keruh
BotolIV : Bening
Botol V : Bening
Silika  sampel berwarna hijau semakin lama semakin turun dan hilang.
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu metanol 100 %.
Fasa gerak hanya terjadi pada crude atau sampel asli. Pada plat terdapat warna cream disepanjang jarak dan dibagian tengahnya berwarna ungu.
Sampel E (Semangka)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Sampel dalam kolom di silika langsung turun. Diperoleh hasil bahwa:
Botol I : Bening
Botol II : Kuning Pudar
Botol III : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat terlihat bahwa hanya crude (sampel asli) yang bergerak dengan warna kuning. Namun pada hasil yang diperoleh pada saat kolom tidak terdapat fasa gerak.
Sampel F (Wortel)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperolh hasil bahwa:
Botol I : sampel udah turun berwarnna bening
Botol II : Kuning cerah
Botol III : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada crude terjadi fasa gerak dengan warna kuning. Namun pada hasil kromatografi kolom pada botol I dan III tidak bergerak namun terdapat warna cream. Sedangkan pada botol II tidak terjadi apa-apa.
Sampel G (Pepaya)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh:
Botol I : Bening (Sampel belum turun)
Botol II : Kuning (Sampel turun)
Botol III : Bening (Sampel turun)
Botol IV : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat terlihat bahwa crude terjadi fasa gerak berwarna orange.
Botol I : tidak terjadi apa-apa
Botol II : tidak bergerak tetapi terdapat warna cream pudar
Botol III : bergerak dengan warna cream
Botol  IV : tidak bergerak tetapi ada warna cream pudar pada plat
Sampel H (Kentang)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : bening ( setengah botol)
Botol II : kuning keruh ( seperdelapan botol)
Botol III : bening
Botol IV : bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1.
Pada plat terdapat fasa gerak pada crude namun pada sampel hasi kromatografi kolom tidak terjadi apa-apa.
Sampel I (Tomat)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil bahwa :
Botol I : berwarna bening
Botol II : berwana kemerahan
Botol III : bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat diperoleh bahwa botol III bergerak dan berwarna bu-abu.
Sampel J (Bunga sepatu)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : bening
Botol II : keruh
Botol III: keruh pudar
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat tidak terjadi fasa gerak tetapi terdapat warna cream.

VIII. Pembahasan
Kromatografi merupakan salah satu teknik pemisahan yang cukup banyak digunakan para peneliti dalam melakukan pemisahan suatu sampel dengan adanya fase gerak dan juga fase diamnya. Kromatografi memiliki macam-macamnya meliputi, kromatografi lapis tipis, kromatografi cair, kromatografi gas, kromatografi penukar ion, kromatografi afinitas, dimana semua teknik kromatografi tersebut menggunakan prinsip yang sama. Prinsip dasar dari pemisahan kromatografi yaitu jika suatu komponen penyusun zat terletak pada perbedaan afinitas (gaya adesi) dari setiap jenis sampel terhadap perbandingan fasa diam dan fasa gerak sehingga masing-masing zat tersebut mampu terpisah satu sama lain. Dalam menentukan afinitas analit dipengaruhi oleh daya adsorpsinya terhadap fasa diam dan kelarutan analit tersebut terhadap penggunaan fasa gerak. Jika makin kuat adsorpsi suatu analit terhadap fasa diamnya dan pada kelarutannya yang kecil terhadap pasa gerak maka waktu untuk diam dalam kolomnya lebih lama dibandingkan dengan analit yang memiliki daya adsorpsinya kecil terhadap fasa diam tetapi memiliki kelarutannya sangat besar dengan fasa gerak yang digunakan.
Pada percobaan ini praktikan melakukan percobaan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom. Pada percobaan ini praktikan juga menggunakan 10 sampel tanaman yang berbebeda-beda, yaitu sampel buah naga, sampel bayam, sampel nanas, sampel bunga kertas, sampel semangka, sampel wortel, sampel pepaya, sampel tomat dan sampel bunga sepatu. Sedangkan eluen yang digunakan pada percobaan ini, yaitu metanol, kloroform, etil asetat dan n-heksane. Dari banyaknya sampel dan banyaknya pelarut yang digunakan maka praktikan diharapkan bisa mendapatkan nilai Rfnya dari sampel tersebut dan hasil yang diperoleh melaui kromatografi kolom yang kemudian dilakukan kromatografi lapis tipis kembali untuk mengetahui kuantitas yang terkandung dalam sampel tersebut. Rumus mencari nilai Rf, yaitu sebagai berikut: (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/10/325teknik-pemisahan-dengan-khromatografi/).

1.      Kromatografi Lapis Tipis (TLC)
      Kromatografi lapis tipis merupakan suatu cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitas yang terkandung dalam senyawa yang dianalisis. Percobaan kali ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui nilai Rfnya.
Pada percobaan ini, teknik kromatografi lapis tipis yang digunakan adalah suatu plat tipis (alumunium) yang berfungsi sebagai tempat berjalannya adsorben sehingga proses perpindahan (migrasi) suatu sampel (analit) oleh suatu pelarut (solvent) yang bisa berjalan. Persiapan plat yang digunakan, yaitu dengan memotong plat tersebut pada ukuran 5 x 3 cm , kemudian dikasih batas bawah dari plat untuk penotolan sampel sebesar 0,5 cm. Dari 10 sampel yang digunakan yaitu sampel buah naga, sampel bayam, sampel nanas, sampel bunga kertas, sampel semangka, sampel wortel, sampel pepaya, sampel tomat dan sampel bunga sepatu diambil ekstraknya. Dimana tiap-tiap sampel dilakukan ekstraksi menggunakan padat-cair. Maksudnya sampel padat di tumbuk atau dihaluskan menggunakan porselen dan di peras dan diambil ekstrak dari masing-masing sampel. Dan setelah diperoleh sampel murni dan kemudian ditetesi sebanyak 5 tetes metanol pada tiap-tiap sampel. Persiapan sampel telah selesai. Kemudian dilanjutkan dengan persiapan eluen (pelarut) yaitu  metanol, kloroform, etil asetat dan n-heksane. Dimana kami menggunakan beberapa campuran dari tiap-tiap sampel sesuai dengan kepolarannya.
      Pada percobaan ini diawali dengan penotolan sampel pada plat TLC. Pada percobaan pertama dengan plat (a) yang mengandung 4 sampel berbeda yaitu buah naga, bayam, nanas, dan bunga kertas. Masing-masing sampel ditotol pada garis 0,5 cm dari dasar secara vertikal. Kemudian plat dimasukkan kedalam chamber yang berisi eluen emudian chamber ditutup rapat agar eluen tidak menguap karena eluen yang kami gunakan bersifat mudah menguap. Dimana eluen yang kami gunakan yaitu perbandingan eluen n-heksane dan Etil asetat yaitu masing-masing 2 : 1. Ditunggu beberapa saat hingga terlihat pergerakan sampel pada plat. Setelah terjadi pergerakan diambil plat kemudian disinari dengan sinar UV pada telepon genggam yang dimiliki salah satu praktikan. Dan diberi tanda menggunakan pensil agar memperjelas jarak yang ditempuh sampel. Hasil yang didapat bahwa pada plat (a) jarak pelarut sebesar 4,8 cm dan pada senyawa memiliki vasiasi yang sangat signifikan yaitu pada sampel buah naga jarak senyawa sebesar 3,9 cm sehingga Rf yang diperoleh sebesar 0,8125 dengan menggunakan rumus yang diatas telah diberitahu. Rf (Retardation faktor) bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dengan menghitung dan membandingkan harga Rf. Kemudian sampel kedua yaitu bayam dimana jarak senyawa yang ditempuh sangat kecil sebesar 0,3 cm sehingga Rf nya yaitu 0,0625. Sampel ketiga yaitu nanas memberkan jarak senyawa yang hampir mirip dengan buah naga yaitu 3,8 cm sehingga Rf nya sebesar 0,7917 dan sampel keempat yaitu bunga kertas diperoleh jarak senyawa sebesar 2,5 cm dan Rf nya yaitu 0,521. Dari keempat sampel pada plat (a) memberikan variasi Rf yaitu buah naga, nanas, bunga kertas dan bayam secara berturut-turut yaitu 0,8125 : 0,7917 : 0,521 : 0,0625.
      Percobaan kedua pada plat (b) yaitu dengan empat sampel berbeda yaitu semangka, wortel, pepaya dan kentang. Dengan perbandingan eluen tetap 2 : 1 namun dengan komposisi yang berbeda dengan plat (a) yaitu 1 ml n-heksane dan 0,5 ml etil asetat. Hal yang sama seperti perlakuan plat (a). Diawali dengan penotolan keempat sampel pada plat dan dicelupkan pada eluen pada chamber. Dan diamati menggunakan sinar UV dan diukur pada masing-masing sampel. Hasil yang diperoleh plat (b)  yaitu pada jarak pelarut sebesar 4,5 cm dan jarak masing-masing sampel yaitu pertama semangka dengan jarak senyawa sebesar 3,7 cm maka Rf nya sebesar 0,82. Kedua pada sampel wortel dimana jarak senyawa sebesar 3,9 cm maka Rf nya 0,87 dan sampel ketiga yaitu pepaya dengan jarak senyawa sebesar 3,8 cm maka Rf nya menjadi 0,84 dan terakhir pada plat (b) yaitu sampel kentang yang meberikan jarak senyawa nol atau dikatakan senyawa tidak memberikan pergerakan pada plat sehingga berbanding lurus dengan tidak memberikan  nilai Rf. Hal ini dapat disebabkan karena salah perlakuan dari peneliti ataupun senyawa kentang yang sudah tidak murni lagi. Diperoleh nilai Rf yang relatif sama tidak berbeda pada ketiga sampel yaitu semangka, wortel dan pepaya tidak halnya pada kentang.
      Percobaan selanjutnya pada plat (c) dengan 2 sampel saja yang berbeda yaitu tomat dan kembang sepatu. Dengan eluen yang digunakan yaitu n-heksane : etil asetat yaitu 3 : 1, dimana 3 ml n-heksane dan 1 ml etil asetat. Hal yang sama seperti perlakuan pada plat (a) dan plat (b). Maka hasil yang diperoleh pada jarak pelarut sebesar 4,7 cm dan jarak senyawa pada sampel tomat sebesar 4,1 cm maka harga Rf nya 0,872 dan pada sampel kedua yaitu kembang sepatu dengan jarak senyawa sebesar 4 cm sehingga harga Rf nya 0,85.
      Diperoleh variasi harga Rf (Retardation faktor) dari 10 sampel tersebut. Hal-hal yang mempengaruhi adalah kandungan atau kuantitas dari masing-masing sampel dan banyaknya eluen atau perbandingan eluen dengan masing-masing kepolarannya. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu kurangnya ketelitian dari peneliti dan kurangnya pemahaman peneliti dalam melakukan percobaan ini pada komposisi masing-masing eluen yang digunakan.
2.      Kromatografi Kolom
      Kromatografi kolom yang kami gunakan yaitu kromatografi cair-padat (KCP) kolom terbuka. Pemisahan kromatografi kolom berdasarkan pada adsorbsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap permukaan fase diam. Substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Fase geraknya berupa cairan (pelarut) yang mengalir akan membawa komponen campuran sepanjang kolom. Prinsip yang mendasari kromatografi kolom adsorpsi adalah komponen-komponen dalam zat yang harus diteliti mempunyai afinitas yang berbeda-beda terhadap adsorben dalam kolom.
      Percobaan diawali dengan penyiapan kolom dengan memasukkan kapas pada kolom yang bertujuan untuk menyumbatnya, kemudian ditetesi dengan n-heksane yang bertujuan untuk membersihkan kapas yang nempel pada dinding kolom tersebut. Pada kolom terlebih dahulu silika gel sebagai adsorben atau substrat padat yang bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Sedangkan fase geraknya yang kami gunakan yaitu n- heksane, dimana n-heksane merupakan cairan (pelarut) yang akan mengalir dan mebawa komponen campuran sepanjang kolom. Selanjutnya disiapkan antara adsorben dan cairan (pelarut) pada suatu tempat kemudian dicampurkan. Kemudian kolom diisikan dengan silika gel dan n-heksane bertujuan untuk pelarutan dan penjernihan kemudian dimasukkan secara  secara perlahan-lahan dan hati-hati serta terus menerus hingga adsorben berada disetengah kolom hingga padat atau menjenuhkan kolom. Dengan cara mengetuk datar dan searah pada bagian dinding hingga tidak ada lagi yang bergerak menetes namun pelarut dalam kolom akn tetap menetes.
      Kemudian, penyiapan sampel yaitu dengan mencampurkan senyawa murni pada 10 sampel yang berbeda meliputi meliputi sampel buah naga, sampel bayam, sampel nanas, sampel bunga kertas, sampel semangka, sampel wortel, sampel pepaya, sampel tomat dan sampel bunga sepatu. Dilanjutkan dengan mencampurkan masing-masing sampel pada silika gel, dengan beberapa tetes sampel saja dan diaduk hingga kering pada cawan petri. Kita hanya menggunakan per sampel tidak menggabungkan beberapa sampel. Kemudian sampel tersebut dimasukkan kedalam kolom dan diratatakan sambil ditetesi dengan dengan campuran dua pelarut tergantung pada sampel dan banyaknya pelarut bergantung pada kepolaran masing-masing pelarut. Hasil yang diperoleh berbeda-beda pada setiap sampel dengan masing-masing eluen yang digunakan sebagai berikut:
v  Pada sampel pertama yaitu buah naga dengan pelarut yang digunakan yaitu n-heksane : etil asetat dengan perbandingan 8:1.  Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel buah naga yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Kemudian pelarut yang keluar dimasukkan kedalam botol-botol kecil deiperoleh sampel pelarut tetapi sampel tidak turun. Oleh sebab sampel tidak turun maka dilanjutkan dengan penambahan pelarut yang sama sebanyak 16:2. Hasilnya sampel turun sedikit, hingga diperoleh ampel pelarut kembali. Diulangi dengan pelarut dan perbandingan yang sama diperoleh hasil bahwa sampel turun setengah. Sampel yang tidak turun-turun dilakukan kembali hal yang sama dengan pelarut tersebut dengan perbandingan yang berbeda yaitu  15:5. Diperoleh bahwa sampel sedikit menurun. Diperoleh 5 botol sampel berwarna bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis.  Proses TLC diawali dengan menggaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis. Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2. Diperoleh pada proses TLC yaitu hanya crude (sampel asli) yang bergerak. Sedangkan sampel asil kromatografi kolom tidak.
v  Pada sampel kedua yaitu bayam diawali dengan menyiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 5 : 10. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bayam yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan pada kolom. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh bahwa hasil sampel turun didasar kolom, diperoleh: Botol I : bening, Botol II : hijau, Botol III : hijau pudar, Botol IV : bening. Dimana sampel yang dikolom pada silika mengering berwarna kuning. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis.Kemudian dilakuakn TLC seperti prosedur yang sama diperoleh bahwa tidak ada sampel yang bergerak. Namun pada botol 1,2 dan 3 pada plat berwarna kuning.
v  Pada sampel ketiga yaitu nanas. Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1.Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel nanas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh sampel: Botol I : berwarna bening, Botol II : silika pecah namun sampel nanas turun menjadi keruh dan Botol III : bening keruh. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Kemudian dilakuakn TLC dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1. seperti prosedur yang sama diperoleh bahwa tidak bergerak dan tidak berwarna.
v  Pada sampel keempat yaitu bunga kertas. Disiapkan pelarut kloroform.Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh hasil : Botol I : Bening, Botol II : Bening berminyak, Botol III : Agak keruh, Botol IV : Bening, dan Botol V : Bening. Silika  sampel berwarna hijau semakin pudar. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, fasa gerak hanya terjadi pada crude atau sampel asli. Pada plat terdapat warna cream disepanjang jarak dan dibagian tengahnya berwarna ungu.
v  Pada sampel keenam yaitu semangka. Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Sampel dalam kolom di silika langsung turun. Diperoleh hasil bahwa: Botol I : Bening, Botol II : Kuning Pudar dan Botol III : Bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, Pada plat terlihat bahwa hanya crude (sampel asli) yang bergerak dengan warna kuning. Namun pada hasil yang diperoleh pada saat kolom tidak terdapat fasa gerak.
v  Pada sampel selanjutnya yaitu wortel. Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperolh hasil bahwa: Botol I : sampel udah turun berwarnna bening, Botol II : Kuning cerah, dan Botol III : Bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol.kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Pada crude terjadi fasa gerak dengan warna kuning. Namun pada hasil kromatografi kolom pada botol I dan III tidak bergerak namun terdapat warna cream. Sedangkan pada botol II tidak terjadi apa-apa.
v  Pada sampel selanjutnya yaitu pepaya. Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh: Botol I : Bening (Sampel belum turun), Botol II : Kuning (Sampel turun), Botol III : Bening (Sampel turun) dan Botol IV : Bening Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, pada plat terlihat bahwa crude terjadi fasa gerak berwarna orange. Botol I : tidak terjadi apa-apa, Botol II : tidak bergerak tetapi terdapat warna cream pudar, Botol III : bergerak dengan warna cream dan Botol  IV : tidak bergerak tetapi ada warna cream pudar pada plat.
v  Pada sampel selanjutnya kentang. Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1.Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh hasil : Botol I : bening ( setengah botol), Botol II : kuning keruh ( seperdelapan botol), Botol III : bening dan Botol IV : bening Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat terdapat fasa gerak pada crude namun pada sampel hasi kromatografi kolom tidak terjadi apa-apa.
v  Pada sampel selanjutnya tomat. Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1.Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh hasil bahwa : Botol I : berwarna bening, Botol II : berwana kemerahan dan Botol III : bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat diperoleh bahwa botol III bergerak dan berwarna bu-abu.
v  Pada sampel selanjutnya yaitu bunga sepatu. Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh hasil : Botol I : bening, Botol II : keruh dan Botol III: keruh pudar. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat tidak terjadi fasa gerak tetapi terdapat warna cream.
      Dari beberapa sampel diatas dapat terlihat bahwa perbedaan laju turun dari masing-masing sampel dalam kolom dan beberapa percobaan berdasarkan pemisahan dengan kromatografi kolom didasarkan kekuatan adsorpsi atau daya serap dari koefisien partisi antara fasa gerak dan fasa diam. Pengaruh lain disebabkan oleh fasa gerak yang digunakan dalam proses tersebut berdasarkan kepolarannya.
IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
  1. Mengapa dalam percobaan tersebut praktikan mengunakan silica gel dalam percobaan kromatografi kolom?
  2. Apa prinsip dari kromatografi lapis tipis diatas?
  3. Apa kegunaan dimasukkannya n-heksana ke kolom dalam percobaan kromatografi kolom?
XII. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini, yaitu:
  1. Kromatografi adalah salah satu proses pemisahan molekul-molekul berdasarkan fase gerak dan fase diamnya dalam suatu larutan.
  2. Kelebihan dari kromatografi lapis tipis dibanding kolom adalah : pengerjaannya membutuhkan waktu yang cepat, bahan yang diperlukan bisa di sesuaikan dengan kebutuhan, serta proses pemisahannya berlangsung baik.
  3. Teknik pemisahan kromatografi ini juga digunakan untuk menentukan nilai Rfnya dengan rumus sebagai berikut:
XIII. Daftar Pustaka
Budiasih, 2008. Hanbook Ibu Menyusui. Bandung: Karya Kita.
Endang & Erma, 2010. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Gitter, 2011. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Diterjemahkan oleh Sri Andani dan E. D. Purbayanti. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Ratnayani,dkk, 2013. Aktivitas Antiradikal Bebas Serta Kadar Beta Karoten pada MaduRandu (Ceiba Pentandra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium Longata L.), Jurnal Kimia, 4 (1), Januari 2010 : 54-62
XIV. Lampiran Gambar

Pengekstrakan Sampel
Hasil pengekstrakan dari sampel
Perendaman Plat pada eluen
Penyinaran sinar UV pada plat TLC
Proses kromatografi kolom