Kamis, 25 April 2019

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 " KEISOMERAN GEOMETRI "PENGUBAHAN ASAM MALEAT MENJADI ASAM FUMARAT"


I.                   Judul                    : Keisomeran Geometri “Pengubahan Asam Maleat menjadi
 Asam Fumarat”
II.                Hari, Tanggal      : Jumat, 26 April 2019
III.             Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu:
a.       Dapat memahami azas dasar keisomeran ruang khususnya isomer geometri
b.      Dapat memahami perbedaan konfigurasi cis dan trans secara kimia dan fisika
IV.             Landasan Teori
Kita ketahui bahwa dalam ilmu kimia isomer merupakan molekul-molekul dengan rumus kimia yang sama ( dan sering dengan jenis ikatan yang sama) namun memiliki susunan atom yang berbeda ( dapat diibaratkan sebagai anagram). Kebanyakan isomer memiliki sifat kimia yang mirip satu sama lain. Selain itu juga terdapat istilah isomer nuklir, yaitu inti-inti atom memiliki tingkat eksitasi yang berbeda. Contoh sederhana dari suatu isomer adalah C3H8O . Terdapat tiga isomer dengan rumus kimia tersebut, yaitu 1-propanol ( n-propil alcohol 1) dan 2-propanol ( isopropyl alcohol 11). Pada molekul 1, atom oksien terikat pada karbon ujung sedangkan pada molekul 11, atom oksigen terikat pada karbon kedua (tengah) ( Underwood, 2007).
Kita juga dapat mengetahui bahwa isomer geometri merupakan isomer yang terjadi akibat dari perbedaan letak atau gugusnya. Isomer geometri juga sering disebut dengan isomer cis-trans. Isomer ini tidak terdapat pada kompleks dengan struktur linear, trigonal planar dan octahedral. Pada beberapa senyawa kompleks koordinasi, ikatan kovalen menimbulkan kemungkinan terbentuknya senyawa-senyawa isomer, karena ligan terikat dalam ruangan sekitar ion logam pusat. Yang dimaksud dengan senyawa isomer adalah molekul-molekul atau ion-ion yang mempunyai susunan atom yang sama sehingga sifat-sifatnya berbeda (Fessenen, 2010).
Keisomeran cis-trans terjadi pada beberapa senyawa kompleks yang mempunyai bilangan koordinasi 4,5 dan 6. Tetapi untuk bilangan koordinasi 4, keisomeranny hanya terjadi pada banun berisi 4 ligan-ligan yang sama jarknya ke logam pusat. Misalnya, senyawa kompleks platina (II), [Pb(NH3)2. Cl2], mempunyai 2 senyawa isomer yang berbeda kelarutan (Rival,2009).
Tipe isomer tuang dimana 2 senyawa berbeda dalam hal kedudukan relative 2 gugus terikat disekitar ikatan rangkapnya. Sebagai contoh adalah asam flumarat dan asam maleat. Pada asam flumarat kedua gugusnya, yaitu gugus –COOH dan gugus –H terletak pada sisi ikatan rangkap yang sama (disebut bentuk cis) sementara pada asam maleat kedua gugus tersebut terletak pada sisi ikatan rangkap yang berlawanan (trans). Sehingga isomer geometri ini disebut juga dengan isomer cis-trans (Mulyono,2005).
Dalam komponen organic dapat memiliki satu atau lebih gugus fungsi yang akan terikat pada atom karbon baik dalam ikatan tunggal maupun ikatan rangkap. Gugus atau atom yang terikat pada atom karbon yang berikatan tunggal akan bebas berotasi sepanjang ikatan tunggal -C-C- sehingga tidak dapat dibedakan orientasi bidang ruang gugus fungsinya begitupula  dengan sebaliknya jika suatu gugus atau atom yang terikat pada senyawa organik yang memiliki ikatan rangkap atau rantai atom karbonnya siklik maka gugus atau atom tersebut tidak dapat berotasi bebas sehingga orientasi ruang gugus atau atomnya dapat diidentifikasi sehingga disebut juga dengan isomer geometri. Seperti contoh dibawah ini:

Isomer geometri dapat kita temukan juga pada senyawa organik rantai siklik contohnya pada cincin karbon sikloalkana terbentuk bidang pseudo yang dapat digunakan untuk menetapkan orientasi relatif atom atau gugus yang terikat pada cincin tersebut(stereokimianya). Orientasi atom atau gugus dapat berada pada sisi cincin disebut “atas” sedangkan sisi lain disebut “bawah”. Nah, para ilmuwan kimia juga mengatakan bahwa ikatan berbentuk baji juga dapat digunakan untuk menunjukkan gugus/atom yang terletak di atas bidang rata-rata cincin, dan garis tetas untuk ikatan pada atom atau kelompok yang terletak di bawah cincin. Dapat kita lihat pada contoh dibawah ini:

Isomer geometri dengan orientasi tertentu dapat diubah orientasinya contohnya pada asam maleat atau cis-asam butenadioat yang memiliki dua gugus karboksilat ini sangat sering digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan asam fumarat atau trans-asam butena dioat. Dengan contoh dibawah ini:

Isomerisasi ini dapat dikatalisis dengan bermacam-macam pereaksi, seperti asam mineral, asam sulfat atau asam khlorida dan tiourea dan pemanasan yang sesuai (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/20/keisomeran-geometri-transformasi-asam-maleat-menjadi-asam-fumarat/).

V.                Alat dan Bahan
5.1  Alat
v  Erlenmeyer
v  Bunsen
v  Coron Buncher
v  Labu bulat
v  Alat penentu titik didih
v  Kertas sarin
v  Kondensor refluks
5.2  Bahan
v  Anhidrat Maleat
v  HCl pekat
v  Aquadest
v  Apel
VI.             Prosedur Kerja
v  Didihkan 20 ml air suling didalam Erlenmeyer dan ditambahkan 15 gram anhidrat maleat. Anhidrat ini mula-mula akan melebur pada suhu 153˚C, kemudian bereaksi dengan air menghasilkan asam maleat yang sangat larut dalam air panas (400gr/100ml air panas) bahan mudah larut dalam air dingin (79gr/100ml) pada 25˚C.
v  Didinginkan labu dibawah pancaran air kran ketika larutan menjadi jernih, sampai sejumlah maksimum asam maleat mengkristal dari larutan
v  Dikumpulkan asam maleat diatas corong buncher, dikeringkan dan ditentukan titik didihnya. Dan jangan dibuang filtrate yang mengandung banyak maleat terlarut
v  Dipindahkan larutan filtrate kedalam labu bundar, ditambahkan 15 ml HCl pekat dan refluks perlahan-lahan selama 10 menit. Kristal asam fumarat akan segera mengendap dari larutan (kelarutannya dalam air 9,8 gr/100ml pada 100 dan 0,7gr/100ml pada 25˚C).
v  Didinginkan larutan pada suhu kamar, kumpulkan asam fumarat dalam corong buncher dan direkristalisasi dalam air (kira-kira 12 ml/gr asam)
v  Ditentukan titik lelehnya dengan menggunakan melting blok logam

Pertanyaan...!!!!
1. Mengapa dalam video tersebut asam maleat yang berada dalam labu dasar bulat ditambahkan dengan air panas?
2. Mengapa dalam video tersebut asam maleat harus dipanaskan atau di refluks?
3. Apa yang dilakuan untuk mencegah terjadinya benturan antar partikel senyawa ketika dipanaskan sampai mendidih dalam video tersebut?

Rabu, 10 April 2019

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 " KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN KOLOM"


I.       Judul                    : Kromatografi Lapis Tipis dan Kolom
II.     Hari,tanggal        : Kamis, 18 April 2017
III.  Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini, yaitu:
  1. Dapat mengetahui teknik-tenik dasar kroatografi lapis tipis dan kolom
  2. Dapat membuat pelat kromatografi lapis tipis dan kolom kromatografi
  3. Dapat memisahkan suatu senyawa dari campurannya dengan kromatografi lapis tipis dan memurnikannya dengan kolom
  4. Dapat memisahkan pigmen tumbuhan dengan cara kromatografi kolom
IV.  Landasan Teori
Kita tahu bahwa cara pemisahan sangatlah banyak jenisnya begitu pula dengan proses atau langkah kerjanya. Nah disini kita akan bahas tentang pemisahan larutan atau sampel dengan menggunakan teknik pemisahan kromatografi. Sebelum kita melakukan pemisahan kromatografi kita terlebih dahulu harus tahu apa itu pemisahan kromatografi, metodenya atau langkah-langkah proses kromatografi dan jenis-jenis kromatografi. Kromatografi merupakan metode analisis campuran atau larutan senyawa kimia dengn adsorpsi memilih pada zat penyerap, zat cair dibiarkan mengalir melalui kolom zat penyerap, misalnya kapur, alumina, dan semacamnya, sehingga penyusunnya terpisah enurut bobot molekulnya, mula-mula memang fraksi-fraksi dicirikan oleh warna-warnanya. Koefesien kromatografi dan kapasitas cuplikan lnear menurun untuk memperkecil pengaruh antariksa yang kuat, aktivitas penyerap biasanya dikendalikan atau diubah dengan memakai kadar air atau alcohol. Alkohol atau air sering ditambahkan pada fase gerak dan penyerap. Dalam kromatografi adsorpsi pengelusi eluen naik sejalan dengan polaritasnnya (misalnya dari heksana → aseton → alcohol → air). Eluen pengembang dapat berupa pelarut tunggal dan campuran dengan susunan tertentu. Pelarut-pelarut pengembang harus mempunyai kemurnian yang tinggi. Adanya sejumlah kecil air atau zat pengotor lainnya dapat menghasilkan kromatogram yang tidak diharapkan (Budiasih,2008).
Kromatografi merupakan teknik pemisahan dengan suatu zat dalam campuran diuraikan berdasarkan kemampuannya untuk diserap oleh komponen lain yang ada didalam kromatografi, yang dikenal dengan fase diam. Dalam kromatografi komponen-komponen terdistribusi atau tersalurkan kedalam dua fase, yaitu fase diam dan juga fase gerak. Fase diam dapat berupa zat cair atau padatan sedangkan fase gerak contohnya dapat berupa cairan atau gas. Dengan demikian, kromatografi dapat dibedakan atas dasar kombinasi antara fase diam dan fase gerak. Dapat berupa, cair-cair, cair-gas, cair- padat dan lain sebagainya. Transfer masa antar fasa gerak dan fasa diam terjadi apabila molekul-molekul terserap pada permukaan untuk mengadsorpsi fasa bergerak. Disamping bertujuan untuk pemisahan, teknik kromatografi dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi suatu zat. Pada saat ini telah dikenal cukup banyak teknik kromatografi diantaranya: Kromatografi kertas, lapis tipis (TLC), gas ( Gc), kolom ekslusif dan lain sebagainya. Dengan berbagai cara tersebut, kegiatan preventif dan analitik semakin valid dan reliebel hasil yang diperoleh (Gitter, 2011).
Jenis-jenis kromatografi juga sangat banyak, yaitu Kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis (TLC), kromatografi kolom, dan kromatografi gas tetapi disini hanya akan dibahas kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom. Kromatografi lapis tipis (TLC) merupakan alat analisa yang cukup sederhana karena dapat menentukan jumlah komponen yang ada pada suatu bahan, bahkan dapat pula mengidentifikasi komponen-komponen tersebut. TLC= Thin Layer Chromatography sangat mirip cara melakukannya dengan kromatografi kertas, hanya saja media pemisah yang digunakn disini yaitu lapis tipis adsorben halus yang tersangga pada papan kaca, aluminium, atau plastik sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam digunakan sebagai fasa diam dapat digunakan silica gel,aluminium, dan serbuk selulosa. Tahap-tahap analisa KLT dimulai dari persiapan tangki kromatografi, aplikasi sampel ke plat, menjalankan keomatografi dan menentukan nilai RF (Endang dan Erna, 2010).
Sedangkan kromatografi kolom, yaitu apabila kolom yang akan dipisahkan bergerak bersama fase gerak melalui sebuah kolom, kemudian setiap komponen terpisahkan berupa zona-zona pita. Setiap komponen keluar dari kolom akan dicatat oleh rekorder dan disajiikan dalam bentuk puncak (peak) yang sebanding dengan konsentrasi eluen sebagai fngsi waktu. Tinggi atau luasan puncak sebanding dengan konsentrasi komponen sampel. Digunakan ketika kita akan memisahkan campuran dari dua senyawa yang berwarna, misalnya kuning dna biru. Warna campuran yang tampak adalah hijau. Material akan terpadatkan pada bagian atas kolom (Ratnayani,dkk, 2013).
Karena banyaknya jenis- jenis kromatografi kita harus tahu jenis-jenisnya. Selain itu kita juga harus tahu istilah-istilah yang sering digunakan dalam pemisahan kromatografi. Istilah-istilah itu adalah sebagai berikut:
Istilah Penting
Pengertian
Fasa Gerak or pengemban
Pelarut yang mengalir didalam kolom atau lapisan tipis khromatogram
Fasa diam or adsorben
Zat padat yang mengisi kolom atau melekat atau menempel pada lapisan plat atau kaca atau kertas baik berupa silika gel, selulosa, atau okta dodesil sulfat yang lazim tergantung jenis khromatografinya.
Eluen
Campuran pelarut yang dialirkan kedalam kolom atau merambat pada lapis tipis atau kertas
Eluat
Cairan yang keluar dari kolom yang membawa komponen tertentu dari campuran zat yang akan dipisahkan.
Elusi
Proses memisahkan komponen tertentu dari suatu campuran melalui kolom khromatografi dengan menggunakan kombinasi pelarut tertetenu.
Analit
Komponen-komponen Campuran yang  telah memisah melalui proses khromatografi.
   Pada pemisahan kromatografi ada prinsip yang harus diketahui, yaitu komponen penyusun suatu zat terletak pada  perbedaan afinitas atau gaya adesi dari setiap jenis analit terhadap fasa diam dan fasa gerak sehingga masing-masing komponen penyusun suatu zat terpisah satu sama lain. Afinitas suatu analit ditentukan oleh daya adsorpsinya terhadap fasa diam dan Kelarutan analit tersebut terhadap fasa gerak yang digunakan. Makin kuat adsorpsi suatu analit terhadap fasa diamnya dan kelarutannya yang kecil terhadap fasa gerak maka waktu tinggalnya dalam kolom lebih lama dibandingkan dengan analit yang daya adsopsinya lemah terhadap fasa diam dan kelarutannya tinggi dengan fasa gerak yang digunakan. Dibawah ini terdapat gambar pemisahan kromatografi (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/10/325teknik-pemisahan-dengan-khromatografi/).




I.        Alat dan Bahan
1.1  Alat
v  Plat TLC
v  Gelas piala
v  Plat kaca
v  Kolom kromatografi
v  Pipa kapiler
v  Syrnge gelass
v  Gelas ukur
v  Botol Vial
v  Kapas
1.2  Bahan
v  Etnol
v  Metnol
v  Klorofor
v  Etil-Asetat
v  n-heksana
v  Aseton
v  Aquades
v  Ekstrak sampel
II.     Prosedur Kerja
2.1   Kromatografi Lapis Tipis
v  Siapkan Plat TLC
v  Dibuat larutan pengembang dalam gelas piala 1L  dengan komposisi Etanol : Metanol : Kloroform     : Etil- Asetat : n-heksan : Aseton ( 40 : 68 : 108 : 115 : 140 : 152 ) ml
v  Dibuat 10 larutan sampel dari 10 ekstrak tanaman dengan 5 ml metanol
v  Masing- masing diambil larutan sampel yang sudah di ekstrak dibubuhkan ( ditotolkan ) diatas pelat TLC dengan jarak kira-kira 1cm dari tepi pelat kaca.
v  Keringkan noda sampel dan standard dengan dryer (ditiup)
v  Masukkan pelat ke dalam bejana pengembang
v  Biarkan proses ini berlangsung sampai garis mencapai 1 cm dari tepi atas pelat
v  Angkat pelat dari bejana, lihat noda dengan lampu UV atau dibuat larutan dengann serium sulfat
v  Hitung dan bandingkan semua Rf yang diperoleh.
6.2  Kromatografi Kolom
v  Siapkan 10 ekstrak daun
v  Siapkan kolom kromatografi
v  Sumbat bagian bawah kolom dengan glass wool
v  Dimasukkan silika gel kedalam larutan pengembang yang telah dibuat di awal
v  Larutan tersebur kemudian dimasukkan kedalam kromatografi kolom
v  Dimasukkan sampel yang akan di kromatografi
v  Pelarut harus terus- menerus diteteskan kedalam kolom
v  Tetesan yang keluar dari kolom ditampung dengan beberapa tabung reaksi bersih dan dipisahkan berdasarkan warnanya

Pertanyaan…!!!
1. Apa tanda bahwa eluen sebelum digunakan telah jenuh dalam video yang pertama?
2. Noda apa yang terdapat dalam lempeng KLT yang telah ditotol dengan sampel lalu dimasukkan kedalam eluen?
3. Pada video kedua tersebut apa kegunaan dimasukkannya sepotong kecil kapas kedalam bagian bawah kolom?

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 " PEMBUATAN ASETON "


VII. Data Pengamatan
7.1. Pembuatan Aseton dengan Oksida KMNO4
NO
Perlakuan
Pengamatan
1.
Dirangkai alat sokletasi

2.
12 ml propanol + H2SO4
Larutan menjadi panas dan suhunya 500C
3
Dimasukan dalam labu dasar bulat larutan tersebut + 16 gr KMNO4
Larutan mendidih dan terjadi perubahan warna dari ungu menjadi coklat pekat atau betadin
4
Dimasukan batu didih dan dilakukan desrtilasi
Terjadi penetasan pertama pada tabung Erlenmeyer pada suhu 780C pada menit ke 3 menit dan tetesan terakhir pada suhu 76 0C pada 6 menit 56 detik
5
Diukur volume aseton yang ditimbang
Sebayak 40 tetes atau 2 ml
6
Diuji sama atau tidak bau yang dihasilkan dengan etanol
Bau sama dengan etanol yaitu seperti bau balon

7.2. Pembuatan Aseton dengan Oksida K2Cr2O7
NO
Perlakuan
Pengamatan
1
Dirangkai alat destilasi

2
50 ml air + 27,5 ml H2SO4 + 29,5 isopropil alcohol dan dipanaskan
Warna bening dan menimbulkan panas. Dipanaskan sampai mendidih
3
10 gr K2Cr2O7 + 100 ml air dimasukan kedalam corong pisah
Kristal larut dan berwarna orange
4
Ditambahkan campuran K2Cr2O7dengan air kedalam campuran air + H2SO4 + isopropil alcohol
Warna menjadi hijau toska semakin banyak penambahan warna menjadi hijau pekat
5
Dilakukan destilasi pada suhu 750C
Suhu 83 0C tepat menetes pada waktu 7 menit 44 detik dan tetesan terakhir pada suhu 83 0C menit ke 8 menit 16 detik

VIII. Pembahasan
Aseton banyak digunakan sebagai pelarut polar dalam kimia organic. Aseton ini juga merupakan senyawa yang berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Aseton juga mempunyai banyak kegunaann dalam kehidupan sehari-hari baik dalam dunia industry, elektronik, kesehatan dan juga dalam alat-alat rumah tangga misalnya dapat digunakan untuk membersihkan warna kuteks, key board laptop atau komputer yang kotor, bahkan juga untuk membuat lantai lebih mengkilap, menghilangkan noda pada cangkir yang terbuat dari porselin, membuat sepatu anda semakin mengkilap, menghilangkan goresan pada kaca jam tangan anda, termasuk membersihkan whiteboard yang sudah kotor karena tinta spidol. Selain itu aseton juga dapat digunakan sebagai pelarut, bahan dasar plastik dan berbagai produk kosmetik dan obat-obatan (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/03/sintesis-aseton/). Karena itulah praktikan melakukan praktikum diatas dan pembahasannya, yaitu:
8.1 Pembuatan Aseton dengan Menggunakan Oksidator KMnO4
Sebelum melakukan percobaan ini, praktikan terlebih dahulu merangkai alat sokletasi agar dapat melakukan percobaan yang akan dilakukan. Setelah itu, kedalam gelas kimia ditambahkan 12 ml propanol dan H2SO4 dan setelah dicampurkan ternyata campuran tersebut menjadi suhunya menjadi naik sehingga campuran menjadi panas. Setelah itu, campuran tersebut dimasukkan kedalam labu dasar bulat lalu ditambahkan dengan 26 gram KMnO4. Setelah ditambahkan ternyata larutan mendidih sendiri warnanya berubah menjadi warna ungu dan lama-kelamaan menjadi warna coklat pekat seperti warna betadine. Setelah itu, ditambahkan batu didih tetapi setelah campuran tersebut didihannya berkurang dan suhunya harus turun terlebih dahulu. Dan setelah campuran tersebut suhunya turun atau tidak sepanas diawal tadi barulah campuran tersebut dilakukan pemanasan atau dilakukan proses destilasi. Setelah dilakukan proses destilasi maka didapatlah hasil tetesan pertamanya, yaitu pada menit ke tiga dan pada suhu 780C dan disini praktikan tidak melakukan proses destilasi sampai campurannya habis atau sampai menghasilkan filtrate yang cukup banyak. Hal itu dikarenakan keterbatasan waktu praktikan untuk melakukan percobaan ini. Sehingga praktikan hanya mengambil filtrantnya 40 tetes atau sama dengan 2 ml. Pada percobaan yang pertama ini jangka permulaian tetesannya cepat tetapi lama untuk tetesan pertetesannya. Hal ini dikarenakan KMnO4. merupakan oksidator kuat. Setelah itu hasil dari filtrate tersebut diuji baunya apakah sama dengan bau aseton yang ada di lemari. Dan setelah dilakukan identifikasi dengan cara mencium aroma bau hasil filtrate tadi, ternyata hasilnya baunya sama dengan bau aseton asli yang ada di dalam lemari.
8.2 Pembuatan Aseton dengan Menggunakan Oksidator K2Cr2O7
            Sama halnya dengan percobaan yang pertama, yaitu sebelum melakukan percobaan ini harus dirangkai terlebih dahulu alat sokletasinya baru dapat dilakukan percobaannya. Kedalam gelas kimia ditambahkan 50 ml air lalu ditambahkan dengan 27,5 ml H2SO4 lalu ditambahkan dengan isopropyl alcohol sebanyak 29,5 ml. Setelah dicampurkan ternyata larutan tersebut menghasilkan suhu yang panas dan warna campuran tersebut bening lalu didiamkan agar suhunya turun, tetapi ketika didiamkan ternyata campuran tersebut tidak menegalami penurunan suhu. Selanjutnya campuran tersebut dipanaskan dipenangas air sampai campuran tersebut mendidih. Dalam gelas kimia yang lain dibuat larutan K2Cr2O7, yaitu dengan 10 gram K2Cr2O7 dilarutkan dlaam 100 ml air, setelah dicampurkan ternyata campuran menghasilkan warna orange. Hal itu terjadi karena terjadinya reaksi oksidasi didalam pencampuran tersebut sehingga terjadi perubahan warna menjadi warna orange. Lalu campuran yang telah dipanaskan tadi diangkat dari atas penangas air lalu ditambahkan dengan larutan K2Cr2O7 yang telah dibuat tadi. Ketika ditambahkan sedikit demi sedikit larutannya berubah warna menjadi warna hijau tosca dan setelah itu praktikan menambahkan semuanya kedalam campuran yang telah dipanaskan tadi menggunakan corong pemisah ternyata ketika dimasukkan secara sekaligus menimbulkan gejolakan air seperti air yang mendidih, tetapi ketika tidak dimasukkan larutan K2Cr2O7 tersebut campuran tidak mengalami gejolakan air. Dan dapat terlihat perubahan warna pada campuran tersebut semakin pekat. Disini praktikan juga tidak melakukan percobaan destilasi sampai campuran habis semua, tetapi praktikan hanya melakukan percobaan sebentar saja sama seperti pada percobaan yang pertama saja. Setelah proses destilasi berlangsung ternyata filtrate yang menetes pertama pada labu destilat, yaitu pada waktu ke 7 menit 44 detik dan tetesan terakhir yang praktikan ambil waktunya adalah pada waktu menit ke 8 dan detik ke 18. Setelah itu praktikan dapat volume destilat yang didapat adalah sebanyak 40 tetes atau sama dengan 2 ml. Setelah diuji baunya atau diidentifikasi baunya ternyata baunya sama dengan bau aseton asli yang ada didalam lemari. Dan disini ternyata jangka waktu untuk menetesnya lama tetapi untuk menetes pertetesnya cepat. Hal itu dikarekan karena K2Cr2O7 merupakan oksidator lemah sehingga waktu untuk menetesnya lama.

IX. Kesimpulan
Adapun kesimpun dari praktikum ini, yaitu:
1. Factor yang dapat mempengaruhi proses pembatan aseton adalah suhu, okssidator yang digunakan dalam mengoksidasi alcohol, banyaknya bahan yang digunakan, ketelitian para praktikan dan lain sebagainya.
2. Aseton dapat di produksi dengan beberapa proses yaitu, proses cumene hidroperoksida, proses oksidasi propilen, proses oksidasi isopropyl alcohol dan proses dehidroenasi isopropyl alcohol.

3. Penggunaan oksidator pada proses pembuatan aseton dapat mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan aseton. Jika menggunakan oksidator kalium permanganate akan lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan oksidator kalium dikromat.
X. Daftar Pustaka
Faith, W.L., Keyes, D.B and Clark, R.L., 1975, “Industrial Chemstry”, John Wiley
          and Sons, London
Kirk, R.E., and orthmer, D. F., 1991, “Encyclopedia of Chemical Technology”, 3rd
          edition, Volume 1,20.
Ulmann, 2007, “Ulmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry”. VCH Verlagsgesell Scahft,                        Wanheim, Germany.
Wade, L.G. (2006). Organic Chemistry. Sixth edition. New Jersey : Pearson
            Education International.

XI. Lampiran Gambar


proses pemasangan alat destilasi

Oksidator kalium dikromat

Penambahan kalium permananat pada larutan

Proses destilasi

Aseton hasil destilasi
Pertanyaan….!!
1. Reaksi apa yang terjadi ketika aquades ditambahkan dengan H2SO4 dan ditambahkan dengan 2-propanol dalam perccobaan ini?
2. Apa fungsi dari ditambahkannya batu didih kedalam labu dasar bulat waktu proses destilasi?
3. Mengapa pada pembuatan aseton dengan menggunakan oksidator KMnO4. jangka waktu untuk menetesnya lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan oksidator K2Cr2O7 ?